Jumat, 07 Juni 2013

CERITA SIAK 1

MONKEYS AND THEIR MASTER

Setiap petang, pada pukul segini (17.30 wib ) santak ke magrib, si Do tuan yang selalu setia menafkahi warganya duduk tersandar.

Monyet tu tau pulak waktu2 si Do datang bawak bungkusan, mereka pun tak mau jauh mengitari Do seakan mintak jatah. Tak ada yg sesetia ini, walau antara mereka tak terjalin hubungan formal. Si Do bukanlah pegawai atau honorer Kebun Binatang Balai Kayang II.

Masyarakat terkadang menemani si Do sekedar membawa bekal2 yg dapat dibagikan pada 'nenek moyang Darwin' ini. Akankah ini bisa dijadikan peluang wisata di Siak?

Kamis, 06 Juni 2013

Masa Kecil 5 (versi melayu)

UBI GEBOS

Setelah bangkit dan sembahyang subuh, Aku, Iyan, dan Nuar langsung beraktifitas menyiapkan segala sesuatu. Sepupuku yang paling beso dan Pak Usu Bos (nama sebetolnyo M. Ali) memegang kendali, maklumlah umur orang tu sekitar 5 tahun di atas kami.

Kami langsung menuju kebun tanggung di sebelah rumah. Adolah seluas 6x10 m. Kebun itu ado ubi, keledek dan beberapa rumpun serai. Kami mendekati batang ubi yg paling beso dan mencabutnya beberapa batang. Dengan cekatan kami mengupas dan ada yg menghidupkan api tungku guna memasak air, yg nantinya berguna utk mempercepat ubi itu empuk. Pembagian tugas ini sudah berjalan lama, hal ini bermaksud utk persiapan kami utk sekolah tidak tergencat.

Buru2 mandi, dan masih berpakaian handuk aku menengok ubi yg mulai meluap airnyo, terpaksa dibukak sikit tudung periuknyo agar airnyo tak memadamkan api.

Sambil pakai baju, secara bergantian kami menengok ubi tu, termasuk mengetus airnyo supaya kering. Pakaian sekolah selesai, ubi gebospun dah masak, kamipun berebut makan.

Kadang tak sempat  makan, ubi itu diambik beberapa buku dibawak sambil berjalan menuju sekolah. Panasnya ubi waktu dimakan menimbulkan gelar kami bertambah. Sepupuku Iyan digelar itik krn mengeluarkan suara saat makan ubi panas bersamaan dg menghembuskan tiupan udara. Parah memang.

Kalaupun ubi tak ado, kami tanak nasi dan hanya digaulkan dg minyak jelantah bekas horeng ikan bilis dan ikan asin. Memang sedap. Belakangan ini baru tau minyak jelantah menghitam itu mengandung kolesterol tingkat tinggi. Hehe..

Masa Kecil 4

MENGELOMPO

Untuk bangkit pagi2 sangat berat dirasakan. Azan yg terdengar jelas dari mesjid Alfalah itu dianggap bunyi bunyian yg nyaris tak berarti. Mata masih sangat berat  untuk dibuka.

Bapakku udah dari tadi membangunkanku dan sepupu sepupuku (iyan dan Nuar) untuk sholat. Hehe, mungkin kesabaran orangtua tu dah sampai pada batasnya. Tiba2 kami merasakan  guyuran air ke muka dan badan kami. Tak tau lagi siapa yg 'mengelompo' bangkit duluan, teloncat kami. Kesibukan terjadi mendadak, semuo kami sibuk bersiap utk sholat. Setelah itu barulah mengemas Kelambu belacu yg basah tadi utk dijemur, tentu saja seperangkat alat tidur (bantal dan selimut) lainnya. Di siang hari tu lah baru nampak Kelambu Belacu kami tu berwarna krem, istimewa memang.

Masa Kecil 3

MANJAT KELAPA SAUDARA

Malam baru menunjukkan kurang dari pukul 20 wib. Nasi yg dah dimakan selepas magrib tadi dah lama hancur, artinya perut dah mulai lagi berbunyi mintak diisi. Hehe.. dasar 'badang' tukang makan. Mungkin karena mesin penghancur (perut) daya serapnya tinggi. Maklumlah umur baru 13 tahun, sedang iyo2 betol.

Aku pandang memandang dengan sepupuku Iyan (yang saat ini beranak 4 dan beranak 4 di Sei Pakning). Artinya ada yg dirundingkan utk mendiamkan 'pemberontakan' cacing ini. Kami menyepakati mengambil Kelapo Pak Sodaro kami di dekat rumah Pak Rais tukang roti, hanya berjarak 200 m dari rumah Kami. Berdosalah kami yee, tapi itulah...

Persiapan dah dibuat. Tali rapia sepanjang sekitar 10m dan kain sarung dah dibawak. Suasana gelap, blom ado listrik, semak banyak. Tp demi 'perut dan si Cacing" maka dijalani jugalah.

Soal panjat memanjat ini aku tak ahli, makanya hal ini aku serahkan pada Iyan. Aku nunggu di bawah aja. Kelapa muda yg udah dipetik itu dimasukkan dalam sarung satu persatu diturunkan denhan memakai tali rapia. Hal ini dilakukan agar tak bebunyi.

Karena kami hanya berdua maka kelapa yg dipetik tak banyak, 3 butir aja. Satu utk  masing2, dan satu utk cadangan. Tak jarang kelapa yg dapat tak ada isi, hanya airnya saja dan kelongkong, alias tempurung muda.

Memang lah yee tekak kami 'larap' kalau soal makan memakan ni. Hehe, maklumlah masih masa pertumbuhan.

Medio Malam, Kamis 060613

Rabu, 05 Juni 2013

Masa kecil 1

Rumah kami berdinding papan, pakai tongkat dan beratap seng seken ( yang baru beli hanya 30% saja). Tak ingat pasti tahun berapo rumah tu dihuni. Diperkirakan kami pindah dari rumah depan sekitar tahun 1972. Saat itu blom ada listrik, yang mungkin masuk sekitar tahun 1977.

Banyak kenangan di rumah itu, Mak Bapak, Pak Yong dan keluarganya (Mak Udo Niar dan Erda plus Anan) jg tinggal di rumah yg hanya punya 2 kamar itu. Mak usu Ipak jg, sepupuku Samsir, Pak sodaro Sepupuku Bos, Iyan, Nuar dan beberapa orang lainnya yg menempati rumah berhati lapang itu.

Yang tak pernah lupa adalah saat tidur malam. Dumai dg khas banyak nyamuk sangat sulit ditaklukkan dg obat nyamuk bakar. Saat itu blom dikenal obat nyamuk lotion. Karena itu kami memakai KELAMBU BELACU, yaitu kelambu yg terbuat dari kain belacu tebal, ukuran 3x3 meter berwaena kusam. Baunya khas.

Udara sepanas Dumai membuat kami gerah selalu, tidur tak pernah pakai baju, tentu saja pakai celana pendek dan tetap mempunyai sehelai kain pelekat yg sudah akrab baunya.

My Princess

Tak tahu persis kapan gambar ini terpetik. Yg jelas dan masih ingat di pikiran bahwa Nadya baru bangun tidur. Wajah sumringah dan tulus.

Membesarlah dg Iman.. Anakku!

KENANGAN 1

JOGJA

Suatu masa saat setelah wisuda tahun 1990 di Jakarta.. sayo dan Kadarisan Arief teman sekampus berjalan ke Jogja. Ke Kost Bang Syafrilenti masih menyelesaikan S1 di Gajah Mada. Perjalanan endah dan byk hal baru yg terasa