Jumat, 06 Februari 2015

LUWAHAN RASA 4

Larangan Impor Pakaian Bekas (macam tak ado kerjo laen) Kebijakan melarang impor pakaian bekas akhir2 ini menjadi perbincangan di belahan bumi Indonesia. Pastilah pejabat atas tu tidak pernah susah makanya tak pernah berhubungan dengan Pajak Gadai (tempat  penjuakan pakaian bekas di daerah Tembilahan, Dumai dan Siak). Alasan Pak Pejabat ini memang cerdas, macam Pak Menko Gobel lah,walau kadang terkesan dipaksakan. Mungkin mereka iri dengan nampak masyarakat kecik memakai baju dan celana 'buayo ngango' sehingga jalan ke arah  kepemilikan  masyarakat kecik ini diamputasi dengan meniadakan impornya, padahal selamo ini tak pernah ado legalitas untuk itu. Pak Pejabat Pusat itu tak pernah tinggal di pulau yang minim dengan fasilitas, termasuk dalam menyediakan kebutuhan masyarakatnya. Jalan masih lecah di Teluk Lecah, dan kalaupun agak elok tapi masih  bedonggol, belum lagi fasilitas lain yg harus disediakan. Orang kampung kami dekat Batupanjang itu takkan pernah bisa membeli baju cap buayo kalau mengharapkan ke Pekanbaru atau ke Dumai, berapo pulak hargo dan transportasinyo. Jangankan membeli baju celana, beli bahan makanan pun  untuk nikah kawin sepupu kami harus ke Melako karena jaraknyo hanya70 menit pakai speed dari Rupat Utara, dibandingkan kalau nak belanjo beras, minyak dan daging ke Dumai yg  memakan waktu sekitar 4 jam. Begitupun dengan daerah Kabupaen Siak dan sekitarnyo, sebagian masyarakat masih menggantungkan kebutuhan dengan membeli pakaian bermerek luar, yang rata2 memang menang gengsi dan tahan lasak, Penjualnyopun dapat rezeki. Dalam maso susah mencari kerjo ni Pemerintah Pusat tibo2 pulak nak melarang impor seperti ini, macamlah dio nak sediokan lapangan kejo pengganti untuk masyarakat yang kehilangan mato pencaharian itu, siapo nak belanjokan susu untuk anak mereka? Mungkin ini kasuistik untuk wilayah Riau dan sekitarnyo, dibandingkan dengan kebijakan global yang harus diambik oleh Pusat untuk menyelesaikan masalah Republik ini. Macam2 alasan dibuat untuk menunjukkan betapa kotow dan jijiknyo pakaian bekas yang dibeli selama ini, padahal dulu dio lahirpun dibedong dengan kain yang dah apak. Bakteri pastilah banyak kalau nak diteropong, jangankan pado pakaian bekas, pakaian yang blom dicuci semalam saja pastikan ado 'bakteri taik' di situ. Asal jangan menularkan HIV lah macam cakap Bapak tu. Niat Pemerintah tu elok, tapi masih banyak yang perlu diprioritaskan untuk dilakukan agar mempermudah pelayanan kepada masyarakat. Kalau kito tak bisa mempermurah penyediaan kebutuhan masyarakat, setidaknya jangan persusah akses pendapatan orang tu terhadap  kebutuhannyo. 'Kalau tak bisa menjadi garam, janganlah kito menjadi langau'. (By Ohm, flight to Malang 070215)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar