Minggu, 19 Januari 2014

LUWAHAN RASA 3, Masa Sulit

Aku yg tertua di rumah itu, umur masih 15 tahun. Saat itu Bapakku ke rumah Bang Ani di sekitar Pelabuhan Seismic Dumai. Adik lelakiku Muhammad Rozali berumur kurang dari 2 tahun, sedang demam panas tinggi. Rumah kami Gang Jambu sedang musim banjir. Pukul 21 wib saat itu gerimis, suara katak bersahutan meminta tambah hujan. Aku,  adikku Aro dan Ina duduk dekat Ijal, begitu panggilan pada adik kami yg demam itu.

Sebagaimana biasa kalau demam kami diuras / dikompres dengan air sejuk, bgitu juga yg kami lakukan pada ijal. Mengenai obat demam yg laen aku tak ingat. Tiba2 badan adikku mengejang, matanya mendelik ke atas dan hanya menyisakan mata putihnya saja lagi. Peristiwa ini mengejutkan kami yg saat itu tinggal adik beradik di rumah. Apalah yg dapat aku buat sebagai abang selain dari pada memegangi gerak kejang itu dan  mengompres berulang ulang sambil membaca alfatihah, karena tak tau yg hendak dibuat lagi.  Hanya Allah yang bisa menyelamatkan adik  kami ini.

Setelah step/ kejangnya tak ada lagi, aku langsung berlari dan teringat utk mengambil daun kapas dan durian belanda / sirsak yg di sekitar rumahku. Setahu kami daun tsb kalau direndam akan punya efek menurunkan panas badan.

Tak dapat aku bayangkan beban yg kami alami saat itu. Umur 11 tahun ditinggalkan Mak  setelah 37 hari melahirkan adikku Isnur Hayati. Dokter menyatakan sesak nafas. Aku masih ingat kondisi Mak yg penat mempersiapkan 2 hari lagi pernikahan Mak Usu Fauziah, tapi Allah memanggilnya untuk selama2nya dan meninggalkan aku, Aro dan Ina, serta Adikku Is masih berumur 37 hari.

Situasi malam itu sama dengan saat demamnya adikku Ijal. Hal ini membuat aku sedikit trauma bila ada hujan gerimis, banjir dan suara katak bersahutan. Ada kesedihan yang diikuti kekwatiran, yang menyusupi perasaan ini bila keadaan yg sama saat keluarga sakit.

Perasaan ini menemani aku tumbuh tegar dan berupaya mandiri bersama adik2ku semua. Smoga rasa sayang ini tak memudar karena kami satu sumber darah. DARAH LEBIH PEKAT DARI AIR.

By Ohm.

PERJALANAN HIDUP 2, Filosofi

Menyelesaikan DIII di APDN Pekanbaru dirasakan penuh perjuangan dan dedikasi yg tinggi. Waktu itu belum ada komputerisasi, yg ada hanya mesin tik, itu pun minjam.

Aku harus bangga dengan kemampuan 10 jariku dalam mengetik. Ini semata2 buah kesungguhanku saat kelas 2 SMA dulu yg memanfaatkan waktu  5 menit sebelum pergi sekolah dan 5 menit setelah sampai di rumah. Rentang waktu 5 menit tersebut aku gunakan untuk belajar mengetik sepuluh jari sesuai peletakan jari yg kudapatkan dari buku.

Aku pergi sekolah pukul 7 pagi dan tak mau lewat atau lambat dari waktu itu. Krn itu latihan mengetikku pada pukul 06.55 wib. Begitu juga saat pulang sekolah, sambil mengeringkan keringat dan buka baju itilah aku melanjutkan ketrampilan 10 jariku, hanya 5 menit. Lalu wuduk, sholat dan makan siang.

Mesin tik yg kupakai itu tak normal, milik Bapakku. Kondisi pernya udah putus. Makanya perlu dimiringkan supaya saat pengetikan bisa turun sendiri. Tapi mesin tik itulah yang mengantarkanku menjadi terampil. Rupanya utk belajar tak semata2 diperlukan sarana yg wah.. apa adanya.

Skripsi DIII kubuat  dan ketik sendiri. Tak ada satu hurufpun dibantu orang laen. Begitu juga skripsi S1 saat IIP Jakarta. Dengan membeli komputer (PC) buruk dan printernya seharga Rp 400 ribu rupiah tahun 2004, dan  saat selesai kuliah 2 tahun 3 bulan  berikutnya aku jual segitu juga harganya, hehe.

Tak pernah aku kursus formal utk belajar komputer, tp hanya dengan 'nakal ingin tahu', maka dapat menguasai beberapa program walau tak sepenuhnya pandai. Depan rumah saat kost di Jatinangor ada tempat kursus komputer, krn tak ada duit utk kursus maka pura2 menyewa /rental komputer 1 atau 2 jam, tp sebenarnya belajar cara menjalankan DOS dan WS saat itu. Itu dilakukan setiap hari sampai entah berapa lama.

Kesungguhan itu yg mengantarkanku terampil menggunakan komputer dg biaya murah. Kesempatan pertama setelah menjadi Mahasiswa Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta aku lakukan dg memasuki Pustaka IIP dan memperoleh kartu anggotanya utk mendapatkan fasilitas peminjaman buku. Hehe, kedekatan dg petugasnya aku lakukan utk mendapatkan kemudahan peminjaman lebih dari orang laen. Utk 3 hari biasanya aku bisa pinjam 5 atau 6 buku. Kolusi positif memang.

Teknis membaca cepat aku pelajari dari Prof Majlose, bahwa pertama lihat Judul Buku, lihat daftar isi. Bila tertarik lanjutkan lihat siapa pengarangnya, bila tertarik baca ringkasannya. Kalau tak tertarik maka tinggalkan buku itu.

Tiap hari minimal baca satu buku, bukan utk dihabiskan semua halaman tp hanya pada point penting sesuai tercantum pada daftar isi. Dulu aku catat judul, pengarang, kode pustaka buku itu dan ringkasannya.

Ketika ada tugas dari dosen pada saat kuliah, maka belum jam pelajaran selesai aku udah punya judul utk tugas itu, krn sudah dikuasai sejak awal. Langsung ke pustaka dengan cara tunjukkan ke petugas langgananku kode pustaka buku2 dimaksud. Tak jarang tugasku selesai hanya dalam 2 atau 3 hari, sementara teman2ku butuh waktu 2 atau 3 minggu. Itu caraku menyiasati waktu, karen esok hari akan ada hal laeb yg perlu kita lakukan. The faster the better.

Program Magister di Pekanbaru agak berbeda. Rombongan Pegawai yg kuliah s2 yg pertama adalah Pak Said Ariffadillah, yaitu tercatat sebagai angkatan I MAP UNRI di Gobah, tp krn beliau sakit maka dilanjutkan dg Aku yg angkatan II, selesai tahun 2005. Thesisku nampaknya paling tidak 25% harus  dibantu pengetikannya oleh orang laen, walau think tank  dan models design nya tetap oleh kita sendiri.

Dan ini berbeda lagi dg penyelesaian Disertasi S3 ku. Grand Design mutlak kita sendiri tp harus dibantu pencarian bahan oleh teman2, termasuk pengetikan. Aku kebagian memasukkan teori yg berkaitan, analisis dan editing konsepnya.

Sekian lama aku sekolah, rasanya Program Doktor ini yg sangat aku nikmati. Hari2 di kampus pakai ransel mengunjungi Pustaka, menambah jurnal, konsultasi dengan Dosen Promotor dan Ko, termasuk Penguji. Statusku di kantor mungkin pejabat, tp di Kampus aku adalah mahasiswa yg bisa diperintah oleh petugas administrasi golongan IIb. Inilah bagian dari pemaknaan  status, filosofi hidup dan bijak meletakkan diri kita pada posisi apa.

Jalan sukses itu tak ada yg mulus, semua berbatu, semak dan berliku. Bilamana kita udah sampai di puncak tujuan, ingatlah bagaimana memudahkan orang lain agar tidak sesulit yg kita alami. Thanks to Allah.

Ruang Tunggu F1 Bandara Sukarno Hatta, 19 Januari 2014, By Ohm

Sabtu, 11 Januari 2014

PERJALANAN HIDUP, My Doctor


Kalaulah ku tau mendapatkan Gelar Doktor itu sesulit ini, maka takkan kumulai dari semula. Tak sadar waktu 4 tahun 10 bulan telah berlalu, kalaulah tak selesai dalam waktu 2 bulan lagi maka akupun di-DO-kan.

Saat itu Januari 2008 ada peluang melanjutkan kuliah tingkat Doktoral di Universitas Brawijaya yg bekerjasama dg Pasca Sarjana Universitas Riau. Ada keinginan kuat untuk menjalani proses pembelajaran ini dg serius. Mulailah saat itu membaca brosur dan mengajukan izin Belajar pada Pak Bupati Arwin AS melalui pak Sekda Almarhum Adli Malik. Aku mengajak Bang Syafrilenti untuk ikut serta,  Alhamdulillah kami diizinkan. Terima kasih Pak Arwin.

Perjalanan kuliah berjalan lancar dan penuh tantangan. Tiap hari Sabtu pagi sudah nyetir sendiri menuju Pekanbaru untuk kuliah di Kampus Panam. Bayangkan ini berlangsung tiap sabtu minggu selama dua semester.

Tiap kuliah aku tak pernah duduk di belakang, hampir dapat dipastikan deretan paling depan. Buka laptop tua (Acer stylus pembelian tahun 2005) dan rekam proses kuliah agar nanti dapat diulang dengar saat joging sore atau pagi. Kuliah ini harus serius karena bagian dari proses pembelajaran utk kualitas diri, ini bukan formalitas. Kita tidak sama dg orang pekanbaru yg rumahnya sejengkal dari kampus, perjalanan Kami 120 km dari rumah, itupun nyetir sendiri, resiko perjalanan, meninggalkan anak istri, biaya yang tak sedikit tiap minggu.

Oleh karena itu, kuliah ini harus duduk serius dan gali ilmu dari dosen yg mengajar. Karena pengorbanan yg ada sudah terlalu besar kalau akhirnya hanya main2 di Pekanbaru.

Saat semester 2 kami sudah dianjurkan memperbincangkan Proposal yg akan diteliti. Saat itu saya udah siap dengan proposal yg berisi Bab I, sementara teman2 lain masih memperbincangkan. Tp apa hendak dikata, nasib menentukan lain, rupanya termasuk lambat dalam penyelesaiannya.

Kami seangkatan berjumlah 19 orang, sekarang tinggal 17 orang lagi krn yang 2 orang sudah tak berminat melanjutkan. Baru 6 orang yg sudah selesai, yaitu PaK M Ramli ka Bappeda, Mas Sabarno Kabid du bappeda, Bu Fatmawati, Bu Yusni Maulida Dosen Pasca UR dan Pak Emrizal Pakis Asisten 2, dan aku yg ke 6. Masih ada 11 orang lagi yg sedang berjuang. Semoga saja mereka dapat cepat selesai, di tengah sempitnya waktu. Terpaksalah mereka mengambil masa langkau 6 bulan utk mempersiapkan segala sesuatunya.

Teori 2 semester dilalui dg tantangan tanpa begitu terasa, namun pengajuan Proposal dan konsultasi Desertasi itu yg sangat menguras tenaga, biaya dan waktu. Maklumlah, mengunjungi Pembimbing di Pekanbaru dan Malang bukan pekerjaan yg gampang. Seni berkomunikasi dituntut di sini, membangun network dengan teman2 juga sangat mempengaruhi. Namun yg sangat penting adalah philosofi memanusiakan manusia, Sabar dan tetap sabar. Kalau kita pandai tp jangan menggurui, kalau kita tajam tp jangan melukai, kalau kita laju tp jangan mendahului. Namanya juga DOCTOR OF PHILOSOPHY.

Ada 9 tahap penyelesaian Desertasi. Mulai dari proposal, prelium 1, prelium 2, komisi lapangan, komisi hasil, seminar hasil, kelayakan, ujian terbuka, dan  komisi pengesahan. Dan ditambah dg syarat kolokium yg diikuti oleh kawan2 komunitas S3 di UB.  Hampir 3 semester rasannya waktu terbuang percuma. Semangatku yang membara utk menyelesaikan desertasi, tiba2 menghujam turun hanya gara2 bekal methodologiku yg tidak matang. Perdebatan dua pembimbing yg mempermasalahkan methode kuantitatif atau kualitatif menyebabkan aku tak berdaya dan sulit menentukan pilihan. Konsultasi berjalan tak efektif krn jarak dan kualitas konsultasi yg kurang intensif. Ini memacu aku utk belajar methodologi dg lebih serius.

Bersyukur pada Pak Bupati Syamsuar dan wakil Bupati Alfedri serta  Sekda saat itu Pak Amzar yg mengizinkan di sela2 pelaksanaan tugas sehari2 dapat memanfaatkan waktu konsultasi ke Malang. Terimakasih Pak.

Profesorku Maryunani suatu saat berpesan, jangan hanya berhenti pada Gelar Doktor ini saja, nikmati proses kehidupan ini dg cara kritiki permasalahan sesuai bidang yg didalami. Kebetulan aku menguasai Teori Transfer Fiscal, Agent - Principle Theory (Assymetric Information), Social Capital dan Pembangunan Partisipatif. Hendaknya menyumbangkan pikiran sesuai bidang yg ditekuni, jangan komentari bidang yg tidak kita dalami. Insyaallah Prof.

Tak terhitung rasanya pengorbanan yg telah dilalui. Orang mungkin menyangka uang didapat dengan mudah utk biaya ini. Mereka tidak tau betapa sulitnya menjual tanah utk biaya ini semua, walau akhirnya beberapa teman bersedia meminjamkan sejumlah uang, dan juga meminjam dengan Bank setempat.

Suatu saat istriku sempat bertanya : "Apakah gelar Doktor akan menaikkan pangkat?".
"Tidak", jawabku.
"Apakah akan menaikkan jumlah gaji?". "Tidak juga", tambahku.
"Apakah akan menyebabkan naik Jabatan?", tambah istriku.
"Tidak sama sekali", jawabku lagi.
"Lalu untuk apa sekolah payah2 menghabiskan harta yg ada?"
Aku terdiam terhenyak mengingat itu semua. Tapi aku ini degil, keras hati dan sedikit keras kepala. Aku yakin proses pembelajaran ini banyak gunanya suatu hari.

Saat ini pun proses sekolah ini blom berakhir. Tulisan ini iseng2 dibuat di penerbangan panjang menuju Malang. Beberapa hari lalu ditugaskan Bupati ke Manado menghadiri Seminar Nasional II APKASI APEKSI. Dengan izin Bupati aku menuju Malang, transit di Makasar dan Bali. Pukul 05 wita dari hotel dan saat ini pk 10.42 wita masih di pesawat nuju Denpasar. Insyaallah pk 15 Wita sampai di Malang. Lalu menghubungi Dosen utk konsultasi perbaikan saat Ujian terbuka tgl 22 Desember 2013 lalu.. Mohon doa yaa.. hidup ini dinamis dan tak boleh berhenti berfikir dan menikmatinya.

Masih 4 kali lagi ke Malang. Perbaikan, Komisi Pengesahan, Penandatangan Ijazah dan Wisuda. Bayangkan berapa banyak dana dan waktu yg disisihkan untuk menjalani sisa studi ini. Namun Insyaallah bisa, sabar dan nikmati proses ini. Maafkan Ayahmu ini, maafkan suamimu yg terkadang keras hati, walau kadang lembut juga.. hehe.

Di udara atas Pulau Dewata, 12 Januari 2014. By Ohm.

Jumat, 10 Januari 2014

MASA KECIL 10

CARA UNIK NANGKAP LALAT DAN INGUS IJAU

Semuo budak seumurku berkudis, hehe. Waktu itu sekitar 9 tahunlah. Ado Izul, Andan, Iyan, Nuar, Baidir dan banyak lagi kekawan.

Balek sekolah pukul 12 Kamipun bekumpul di lapangan bola atau halaman umah Izul Jalan Sukajadi. Tak ado yg pakai kasut, semuo pakai kaki ayam. Kebiasaan macam ini tak mengherankan dan jadi pemandangan lazim. Kesepakatan bisa saja berubah dari main kejar2an / tonggak dingin atau maen sambal lakon. Kadang2 kami mandi sungai Pak Lenen atau mandi di Paret Putus sekitar pasar Pulau Payung sekarang.

Mungkin karena tak bersih mandi petabg itulah menyebabkan badan kami korengan byk kudis. Yg jelas bekudis di kaki dan tangan. Terutama sekitar lutut bekas jatuh. Selalunya kalau waktu senggang diadakan lomba nangkap lalat pakai karet. Kudis dibiarkan terbuka sehingga leluasa dihinggapi lalat, kemudian karet dipersiapkan berjalan diam2 menjerat kaki lalat, akhirnya lalatpun berjatuhan. Pemenangnya adalah  pemilik lalat yg terbanyak.. hehe

Jorok memang.. tp itu nyata.

Satu lagi, heran tengok budak2 sekarang ini  ingusnya bening2. Kami dulu kok ijau2 yee.. parah..

Itu krn kelamaan flu dan tak betah2. Maklumlah budak kampung. Bukan hanya ijau, tp aliran ingus di bawah hidung itupun udah iritasi memerah..

Jangan marah yee kawan2..

Kamis, 26 Desember 2013

MASA KECILKU 9

Buah Mempelam

Waktu itu usiaku 14 tahun, kira2 segitulah. Musim kebetulan ada 2 batang mempelam dan sebatang Kuini di samping rumahku. Kelapo adolah 3 batang. Kabun ubi yg bergantian dg keledek adolah beberapo umpun. Maklumlah kebun orang melayu, hehe.

Musim mempelam adalah kesukaanku. Sebilah pisau putih mengkilat yg terbuat dari pisau roti kuasah tajam dan dijadikan pisau pribadiku. Pisau itu hanya diselipkan di atas batang mempelam. Setiap balek sekolah dan makan siang mulailah memanjat batang mempelam dan memperhatikan dimana letak mempelam kmaren yang direncanakan untuk dimakan hari ini.

Biasanya dah ada urutan kematangannya, tak menunggu gugur, maka kupetiklah 2 butir utk dimakan siang itu, dikupas dan tanpa dicuci lagi akhirnya udah berpindah ke perutku. Pisau tadipun disimpan kembali ke persemayamannya di atas batang mempelam itu. 

Dah jauh lebih beradap cara memakan mempelam macam itu, dulu lagi saat berumur lebih kecik, mempelam digigit pakai gigi aja tanpa pisau. Tak heran sering tepi bibir bekudis karena getahnya.. hehe

Kamis, 18 Juli 2013

CERITA SIAK 4

Keanehan DANAU NAGA SAKTI

Kalaulah direncanakan jauh2 hari maka tak pernah bisa sampai ke Danau ini. Letaknya hanya 345 m dari Jalan aspal Lintas Sei apit - Pusako, nampaklah plang bertuliskan nama Danau itu. Suatu nama yg mengundang tanda tanya yg besar.

Kawasan Danau Naga Sakti ini tertulis 400 ha, entah iyo ntah tidak. Info dari Kadis Hutbun memang sekitar itu, sedangkan permukaan air Danau sekitar 30 ha katanya. Mudah2an ini tak bengak (jangan marah ya Kang Teten).

Jalan masuk selebar 3 meter, masih beterbangan debu gambut alias tak besemen apolagi beraspal, panjangnya sekitar 150 m saja. Sempat pulak kami berphoto kat situ, bilo lagi nak mejeng.

Kiri kanan jalan itu dah tumbuh akasia RAPP nampaknyo, berarti bibir kawasan dah pernah dilumati perusahaan ini dulu. Namun sekitarnya masih perawan, hutan lebat yg menjanjikan Atuk Gimau dan sodaronyo masih bermain sekitar situ.

Pemandangan di kiri hutan tampak kering bekas kebakaran kemaren, ngeri pulak tengoknyo. Kalau sempat terbakar lagi maka habislah, kasian dg satwa dan fauna yg ada.

Kawanan burung layang2 menyambar permukaan air danau yg berhampiran dg kami, sepertinya menangkap ikan pantau kecik yg mengapung kat situ, macam maen2 pulak.

Pak Wabup Kami Drs. H. Alfedri M.Si sempat bercerita pengalaman beliau saat menjadi Kepala Seksi PMD Kecamatan Sei Apit dulu, bahwa permukaan Air di Danau ini sama tingginya dg permukaan air sungai Siak, bisa pasang dan bisa surut. Berarti terhubung di dalamannya, namun ini perlu dibuktikan.

Kononnya ikan dsini tak bisa dipancing, tak tau sebabnya. Tak pernah ada orang yg berani bersampan di Danau ini. Apa mungkin disebabkan oleh cerita dari mulut ke mulut yg membuat ngeri. Manalah tau kalau bersampan kwatir keno sentap dari dalam air.. lemaslah awak.

Sosok makhluk Naga saja udah membuat kito takut, apolagi kalau dio sakti, ajablah awak kalau sempat dimamah dio. Air hitamnya menjanjikan kengerian yg nyata, entah apo yg ado di dalamnyo. Cerita yg berkembang mengisyarat tentang kedurhakaan seorang anak terhadap emaknya, yg kemudian menyebabkan anaknya itu secara beransur2 berubah bersisik menjadi makhluk menyerupai ular dan lama2 besar, butuh minum dan akhirnya ditempatkan jauh agar tidak diketahui oleh masyarakat desa. Tak pecayo? Datanglah, bawak kemenyan bako sikit, lalu pekikkan 'hei Nago.. aku nak tengok dikau.. timbullah'. Berani??

Sekitar 15 tahun dulu sempat dikembangkan oleh Pemerintah Kec Sei Apit dg cara membuat hiburan KeyBoard  utk menarik perhatian warga. Cara ini berhasil hanya beberapa bulan saja, kemudian menyurut dan hilang sampai sekarang. Akankah Pemkab Siak merintis kembali?

Selasa, 16 Juli 2013

CERITA SIAK 3

MAKAM PUTRI KACA MAYANG

Tidak ada rencana untuk dapat ziarah ke Makam Putri Kaca Mayang pada sore hari tu, tapi tiba2 saja waktu kami sampai di Guest House PT Kimia Tirta Utama tampa sengaja kami membicarakan 'makhlus halus' yg mendiami mess ini dan hanyut kepada sosok Putri.

Dalam mimpi para tamu dan staf PT KTU yg pernah menginap di sini pernah didatangi oleh sosok Perempuan berpakaian putih selayar. Dan itu sering terjadi hanya di salah satu kamar saja.

Dari mess ini ke makam hanya berjarak sekitar 1,2 Km saja. Dan makam ini persisnya 1.2 km juga ke hulu sungai Gasib. Perjalanan ke makam dari jalan Propinsi (jalan Dayun - Siak ) hanya 10 km melewati jalan kebun PT KTU. Dan oleh Wabup Siak Alfedri langsung instruksikan agar Kadis Parpora Siak Hendrisan rencanakan Pintu Gerbang dan petunjuk Arah menuju ke makam, sehingga masyarakat umum dapat berziarah dan mendatangi sosok Cantik ini.